Saturday, March 12, 2011

De Liefde

"Aku orang yang sangat mudah bersimpati dan seringkali simpati itu berubah menjadi rasa cinta, meski hanya dalam pandang pertama. Orang-orang yang memiliki idealisme adalah subjek yang paling sering menjatuhiku dengan bunga-bunga cinta"
-Sekar Prembajoen-

Novel De Liefde (Memoar Sekar Prembajoen)
Afifah Afra, 2010

Friday, March 11, 2011

Fase (merasa) Ditinggalkan

“Salah satu adab berteman: ketika teman Anda menjauh maka jangan ikut menjauh, tetapi tetap layani dan bahagiakan dia sebagaimana mestinya”


Kehidupan,,
adalah salah satu hal yang paling misteri. Di dalamnya berbagai kenangan terjadi dalam satu frame yang berganti-ganti, sebut saja namanya “Fase Kehidupan”.

Yang saya sebut kini adalah Fase (merasa) ditinggalkan.

Entah bagaimana perasaan ini tumbuh, mungkin karena wanita terlalu sensitif. Sedikit berubah maka banyak kemungkinan yang dilontarkan dalam hati, dan prasangka buruk umumnya lebih dominan. Tapi sekali lagi itulah wanita kawan..

Fase ini seolah menegur sisi kedewasaan,

Membuat hati bergetar hebat dan agak perih ketika dituduh terlalu sibuk.
Merasa bingung bukan kepayang ketika terasa adanya sekat.

Ah, Andai saja kami tega untuk tidak peduli pada semua urusan ini maka mungkin tak akan kami alami Fase ini. Mungkin kebahagiaan selalu menyertai kami. Mungkin tak akan ada sekat, yang ada hanya kebersamaan…

Lalu seolah Malaikat pihak kanan membisikkan kami sesuatu:
Mungkin mereka sedang banyak masalah, pengertianlah…
Mungkin mereka sedang menata masa depan, dukunglah..
Mungkin mereka tak ingin mengganggumu, hargailah…
Atau mungkin Engkau telah melakukan kesalahan yang teramat besar,
maka Minta maaflah..


Sungguh lagi-lagi Hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui isi hati kami.

Perasaan ini tetap harus kami tata untuk melalui fase-fase dunia yang fana.
Karena bagaimana pun,

Mereka yang pernah tertawa bersama kami,
Mereka yang pernah memberi kami kebahagiaan,

Mereka pernah mengerti kami,

Mereka yang pernah membuat kami bangkit,

Mereka yang pernah membantu kami,

Dan Mereka lah yang akan selalu ada di hati-hati kami…


Jikalah semua hal yang dikatakan Malaikat kanan tadi bisa kami lakukan untuk melewati fase ini lebih cepat. Maka akan kami lakukan segala hal Ya Allah…

Maka teruntuk-Mu Kami haturkan sebait doa,

"Ya Allah...
Jagalah mereka dengan sebaik-baiknya penjagaan-Mu

Sayangilah mereka dengan selembut-lembutnya kasih saying-Mu

Permudah segala urusan mereka, dengan bantuan terbaik-Mu, dan...

Aku mohon Percepatlah fase ini Ya Allah,
kami harap fase ini hanyalah fana belaka,
sama seperti fananya dunia,
yang Engkau ciptakan dengan segudang pernak-pernik ujian.."


-Bandung, 11 Februari 2011-

Tuesday, March 8, 2011

Engkau Yang Maha Kucinta

Malam itu,
Hanya sekejap saja aku memejamkan Mata,
Seolah Kau bukakan untukku pintu langit dan bumi,
Membiarkanku larut dalam keindahanMu,
Memberiku madu cinta yang tak ada dua...

Malam itu,
Engkau melenakanku dalam CintaMu,
Membuaikan setiap angan hanya untuk Engkau,
Memenuhi ceruk hati oleh NamaMu.

Engkau Maha Mendengar, Aku tau dan aku Yakin
Engkau Maha Kuasa, Aku rasakan itu
Engkau Maha Mengetahui, Aku Tak pernah meragukannya
Maka Hanya Engkau Yang Maha Kucinta

Sunday, February 27, 2011

Pengadilan Ikhlas

Selagi mereka melihat ikhlasnya sudah cukup maka ikhlas mereka itu masih membutuhkan ikhlas lagi.” (Abu Ayyub as Susy)

Sulaiman Bin Yasar ra meriwayatkan bahwa sekelompok pemuka penduduk Syam (sekarang bernama Suria) bertanya kepada Abu Hurairah.

Mereka berkata, “Wahai tuan guru! Ceritakanlah kepada kami sebuah hadits yang tuan telah dengarkan langsung dari baginda Rasulullah saw.”

Abu Hurairah ra menjawab, “Baiklah"
Rasulullah saw pernah bersabda, ’Sesungguhnya manusia yang pertama kali kelak akan diadili (pada pengadilan akhirat nanti) adalah seseorang yang mati dalam peperangan (mati syahid).

Dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT, diajukanlah amal orang tersebut dan Allah pun Maha Mengetahuinya.

Kemudian, Allah SWT bertanya, ‘Apa saja yang kamu kerjakan ketika di dunia?’

Orang tersebut menjawab, ‘Saya berperang di jalan-Mu ya Allah, sampai-sampai saya mati terbunuh dan mati syahid.’

Allah berfirman, ‘Kamu bohong, yang benar kamu berperang supaya kamu dapat dikatakan sebagai ‘pahlawan’, dan mereka telah menyebutmu demikian.’

Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan Allah SWT dan melemparnya ke dalam neraka.

Ada juga seseorang yang belajar ilmu pengetahuan dan telah bisa mengajarkan ilmu pengetahuan tersebut kepada orang lain.
Ia juga telah bisa membaca Al-Qur`an, lalu dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Dia-pun Maha Mengetahui.

Kemudian, Allah SWT bertanya, ‘Apa yang kamu kerjakan ketika di dunia?’

Orang itu menjawab, ‘Saya belajar ilmu pengetahuan dan telah pula mengajarkannya kepada orang lain. Saya juga telah membaca Al-Qur`an demi Engkau, wahai Allah.’

Allah berfirman, ‘Kamu bohong, kamu belajar ilmu pengetahuan supaya dikatakan sebagai orang pandai, ahli ilmu, ulama, atau intelektual. Engkau membaca Al-Qur`an supaya dikatakan sebagai orang yang mampu membaca Al-Qur`an dengan baik, dan itu semua sudah dikatakan oleh mereka.’
Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan Allah serta melemparkannya ke dalam neraka.

Setelah itu, ada seseorang yang diberi keluasan harta oleh Allah SWT, lalu dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Allah pun Maha Mengetahui.

Allah SWT bertanya, ‘Apa yang kamu kerjakan ketika di dunia?'

Orang tersebut menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan suatu jalan yang Engkau cintai untuk menginfakkan harta pada jalan tersebut, kecuali telah saya infakkan harta yang saya miliki demi Engkau, ya Allah.’

Allah berfirman, ‘Kamu bohong, kamu lakukan semua itu supaya kamu dikatakan orang yang dermawan, dan itu sudah dikatakan oleh mereka.’

Lalu, Allah memerintahkan kepada malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan Allah SWT serta melemparkannya ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Allah Maha Mengetahui kawan...

dan sudahkah kita berjuang, belajar, serta menafkahkan harta di Jalan Allah dengan Ikhlas?

Sungguh hanya Allah Yang Maha Tau...

Tuesday, February 22, 2011

Jawaban si kalem

Orang baik Indonesia punya banyak,
Orang pinter pabalatak (banyak -red),
Tapi kok gak maju-maju yah, berkembang aja terus...

Tanya kenapa?

Si kalem jawab: " Mereka terlalu nyaman dengan kebaikan dan kepintarannya, gak mau kalo baik dan pintarnya hilang karena ikut campur urusan orang banyak"

and How do you think?

Saturday, February 19, 2011

All About July...

  • Juli 2002, masih teringat rasa senang ketika baru masuk SMP, tak berhenti berkata saya kepada Bapak "Besok sekolah baru, seragam baru!" sambil memandangi seragam putih biru yang saya gantung di tembok kamar..
  • 21 Juli 2003, Berkomitmen menutup aurat.
  • Juli 2005, Orientasi baru memasuki SMA baru. Masih terasa lugunya sampai sekarang..
  • Juli 2008, Mendaki Pangrango dengan teman-teman tercinta. Indahnya tak akan terlupa..
  • Next July (2012), Prepare to Graduation Ceremony, Amiin...

Wednesday, February 16, 2011

Dunia Benar-benar Fana!

Satu hal yang sama dan pastinya dimiliki setiap orang adalah satu detik saat ini.

Yang membedakan adalah sedang apa kita di satu detik saat ini?
Bercanda dengan keluarga?
Bersama dengan ibu kita?
Bermain dengan teman?
Belajar? Mengaji? Atau Berkeluh kesah?

Sedang apapun kita, itu semua tak akan pernah kembali.
Maka masih adakah alasan untuk menghamburkan waktu?
Padahal sehebat apapun kita bahkan tak bisa mengembalikan satu detik saja.

Silakan renungi apa yang telah Anda lakukan dengan satu detik saat ini.
Mengarungi hidup menjadi orang sukses kah?
Berusaha menjadi orang pintarkah?
atau terus bekerja untuk menjadi orang kaya?

Lalu…
Apa yang akan anda lakukan ketika sudah sukses?
Apa yang selanjutnya akan anda lakukan ketika sudah pintar?
Apa yang akan anda lakukan setelah anda kaya?

Bukankah sukses itu akan pudar?
Pintar itu akan lebur?
Kekayaan itu bahkan akan menjadi debu?
pudar, lebur, dan hanya menjadi debu tanpa adanya keikhlasan

Coba renungkanlah..
Semakin dalam engkau memikirkan masa depan,
Akan semakin sadar bahwa dunia ini benar-benar fana.

Satu detik saat ini tidak akan pernah kembali,
Melakukan hal baik dan terbaik lah yang seharusnya kita kerjakan,
Sebagai bekal bagi kehidupan yang benar-benar kekal..

Bandung, 16 Februari 2011